Minggu, 12 Februari 2017

Kisah Motivasi Hidup Yang Mengharukan: Kisah Mengharukan Seekor Kucing yang Terjebak di Dalam Dinding Selama 5 Tahun




Kisah Mengharukan Seekor Kucing yang Terjebak di Dalam Dinding Selama 5 Tahun. Seekor kucing terjebak di balik dinding kereta api di Kairo, Mesir. Selama lima tahun kucing itu tetap hidup di balik dinding dan hanya bisa makan jika ada orang yang memberinya makan di stasiun tersebut.
Namun kini kucing ini berhasil dibebaskan setelah kelompok penyayang binatang melakukan kampanye lewat facebook, meminta pemerintah mengizinkan pembongkaran dinding stasiun untuk membebaskannya.
Biso, nama kucing itu, tampaknya masuk ke sebuah lubang di dinding stasiun pada tahun 2010 lalu saat dia masih sangat kecil. Namun kucing itu kemudian tumbuh besar dan sulit untuk keluar dari dinding. Biso diketahui bisa bertahan hidup karena ada seorang pria yang memberinya makan setiap hari.
Pria tersebut, yang dikenal dengan sebutan Paman Abdo, mengunjungi stasiun setiap hari untuk memberi makan Biso. Paman Abdo bahkan tetap datang pada saat revolusi tahun 2011, ketika keadaan sangat genting dan berbahaya, seperti dilansir oleh Mirror (05/04).
Sebenarnya sudah banyak upaya dilakukan untuk mengeluarkan Biso dari dalam dinding. Namun seringnya kucing itu merasa takut dan berlari lebih dalam ke dalam dinding, serta tak mau keluar. Warga pun tak bisa membongkar dinding stasiun karena itu akan dianggap sebagai perusakan properti umum.
Akhirnya sekelompok aktivis penyayang binatang membuat kampanye untuk membebaskan Biso dengan memasang foto ekor kucing dari balik dinding dan mengunggahnya di facebook. Kampanye ini disetujui dan pekerja dibawa untuk mengeluarkan Biso.
Upaya penyelamatan itu dilakukan selama lima jam. Biso yang ketakutan tak mau mendekat ke lubang dan tak mau keluar hingga salah satu pekerja bernama Amr masuk untuk membawanya. Sayangnya, Biso langsung kabur setelah berada di luar. Hingga saat ini Paman Abdo masih mencarinya.


sumber : duniabaca.com 

oleh     ; DIMAS AT TAQWA

Cerpen tentang santri: "24 JAM SANTRI"


24 JAM SANTRI 
Oleh: Maulana Bahrul Alam
Kringg….. kringg….. kring…….. Bel tanda unrtuk membangunkan para santri telah dibunyikan, yah memang itu bunyi bel khas dari pondokku. Ketika terdengar suara bel pada jam tertentu para santri sudah tau itu bel tanda untuk kegiatan apa. Dan saat ini jam masih pukul 03.47. Ketika kupaksa kepala yang masih mengantuk ini untuk menengok jam yang terpasang di sudut kamarku, tepatnya di atas pintu. Walaupun mata ini masih mengantuk dan masih ingin terpejam beberapa saat lagi, dengan sangat terpaksa ku paksa mata ini untuk terbuka dan mencoba untuk bangun dari tidur nyenyak tadi malam. Lalu ku mencoba bersandar pada salah satu sudut tembok di kamarku, rasa kantuk tak dapat ku elakkan, kucoba tidur lagi dengan posisi duduk, saat mata mulai terpejam kemudian terdengar suara lantang salah seorang pengurus, semua santri biasa menyebutnya kang Rohmat atau nama kasarnya Kemat. Salah seorang pengurus bagian keamanan yang di segani kengerian serta kegarangannya oleh semua santri di pondokku, ketika suara semakin dekat kupaksa tubuh ini berdiri sambil berlari keluar kamar, bukan hanya aku tetapi semua santri yang ada di kamarku juga berlari keluar kamar. Karna jika ada anak yang masih tidur di dalam kamar saat pengurus ngoyak i, biasanya sang pengurus akan membangunkannya dengan cara memukul santri tersebut dengan sorban atau sajadah yang di bawa sang pengurus. “yo kang kang e tangi..... tangi.....!!! Peh subuhan jam piro? Jam 7 po?” seru kang Rohmat untuk membangunkan santri. Kuberjalan menuju tempat wudhu di kamar mandi, yang ternyata disitu telah banyak santri yang melakukan kesibukannya sendiri, ada yang tidur sambil jongkok bersandar pada tembok, ada yang sedang wudhu, dan ada pula yang lagi mandi. Kusempatkan untuk buang air kecil dulu, karna tadi malam hampir dari jam 10 sampai jam 3 aku belum kencing, agar saat jamaah bersama abah nanti tidak ada gangguan yang kualami. Setelah kencing kuberjalan ke kolah wudhu, yah tentu kami para santri harus sabar mengantri untuk mendapat giliran wudhu, hampir sekitar 2 menit aku mengantri, lalu kubasuh muka sambil mengucap bismillah, tak lupa kuucap niat wudhu dalam hati. Setelah itu aku bergegas menuju kamarku, tepatnya kamar 3, berada di lantai 1 disamping mushola. Kuganti pakaian tidurku dengan baju koko dan sarung, pakaian khas ala santri Indonesia. Terdengar lantunan sholawat dari speaker mushola yang sangat merdu, karna kamarku tepat disamping mushola dan berada pas di depan jendela, kutengok siapa yang melantunkan sholawat itu, ternyata Kang Toni, seorang santri kawak yang sudah bertahun – tahun hidup di pondok dan mengbdi kepada abah, sungguh merdu suaranya, hati mana yang tak kan tergetar ketika mendengar lantunan sholawat ya hayyu ya qayyu...... setelah tersadar dari lamunan tadi aku bergegas menuju kedalam muhsola untuk melaksanakan shalat qobliyah subuh, yah shalat tersebut telah menjadi rutinitas baru bagi diriku sebelum melaksanakan shalat fardhu. setelah shalat qobliyah tadi kuputuskan untuk membaca ayat suci Al-Quran sambil menunggu abah rawuh. Baru setengah rai membaca Al-Quran ternyata abah sudah rawuh, smbil menepukkan tangan tanda untuk cepat – cepat di iqomahi (di khomati) beliau berkata “yoh lek ndang wes apeh awan, roto rapet, sukune di luruske,” lalu akku bergegas mengambil barisan shof paling depan karna aku juga ingin menabung untuk di akhirat nanti. setelah abah membaca niat lalu takbir, aku pun juga mengikuti beliau membaca niat dan lalu takhbiratul ihram. ketika sholat telah usai biasanya abah ber-wiridan, sebagai seorang santri kamipun mengikuti bcaan wiridan beliau. tat kala wiridan telah selesai, ada sebuh kegiatan wajib yang tak boleh dilewatkan oleh santri di pondokku, yah ngaji subuh biasa santri di sini menyebutnya, membaca lantunan ayat Al-Quran dan di semak oleh salah seorang Ustadz yang sudah di pilih dari pihak ndalem untuk marahi quran sambil mengoreksi bacaan santri tersebut.
Setelah selesai ngaji aku bergegas ke kamar, sesampainya di kamar langsung ku tengok jam dinding yang bertuliskan kaligrafi arab, ternyata masih pukul 05.36. kusempatkan untu membaca beberapa pelajaran yang akan di bahas pagi nanti. setelah selesai membaca lalu bergegaslah aku untuk mandi. taukah kalian kalau rata – rata seorang santri mempunyai kebiasaan yang tak lazim dalam hal mandi, walaupun kebiasaan tersebut  menyimpang dari kesehatan tapi nyatanya mereka tak pernah terkena sakit atau gangguan kesehatan. contoh misalnya satu buah sabun yang di pakai beramai – ramai tanpa rasa malu, beda dengan mereka yang tinggal di perumahan atau di rumah, mungkin menganggap kebisaan ini sangat jijik, tapi tidak bagi kami, lalu istilah join sikat gigi, yah mungkin terlalu extrim untu kebiasaan yang satu ini, tapi tak masalah bagi kami, karna itu semua rasa kekeluargaan menurut kami, dan inilah yang kami namakan kebersamaan.
Setelah selesai mandi bergegaslah aku berganti pakaian seragam sekolah, lalu bergegas berangkat sekolaah. hanya berjarak kurang lebih 500 m jarak antara pondokku dengan sekolahan. di sekolahanku mata pelajaran umumnya berbeda dengan sekolah lainnya, jika di sekolah lainnya mata pelajaran umumnya seperti Matematika, Bahasa Indoneia, Bahasa Inggris dsb, kalau di sekolahanku semua mata pelajaran tadi adalah selingan, sedangkan mapel yang lebih sering di ajarkan setiap hari adalah mapel yang berkaitan dengan ilmu agama seperti nahwu, shorof, bahasa arab, alquran hadist, fiqih dll, karna di sekolahanku menganut sistim pondok maka hari liburnya pun juga bukan di hari minggu, melainkan di hari jumat, hari istimewanya umat islam. di sekolahanku diwajibkan membawa peci, mahkota kebesaran ala kyai dan santri, sebuah barang bulat agak lonjong dan berwarna hitam yang di pakai di atas kepala. ada satu adat itiadat di sini yang tak dapat di hilangkan dari jiwa raga para siswa, oh ya disini semuanya berkelamin laki – laki, tak ada yang berkelamin perempuan, jadi semuanya siswa ,bukan siswi, adat istiadat tersebut adalah membaca nadhom alfiyah ibnu malik setiap pagi, semua kelas bahkan semua siswa di sekolahanku wajib membaca nadhoman tersebut, di sini semua siswa juga di anjurkan mengikuti kegiatan wajib sholat dhuha setiap hari sabtu sabtu pagi secara bergantian setiap kelas. Dan juga untuk sholat jamaah dhuhur semua siswa juga wajib mengikutinya.
Setelah semua pelajaran di sekolahan telah usai bergegaslah aku pulang ke pondok, yah untuk sekedar menghilangkan penat selama belajar lebih dari 7 jam lebih pelajaran di sekolahan kiranya yang di mulai dari jam 07.00 – 14.45. sesampainya di pondok kuputuskan untuk tidur sejenak, walaupun nanti jam 15.00 kami semua di wajibkan mengikuti kegiatan diniyah. Saat ini aku duduk di kelas 4 awaliyyah. Disana kami dapat belajar berbagai ilmu agama. Misalnya nahwu, shorof, fiqh, qowaidul fiqh, shorogan, dan masih banyak lainnya. Di pondokku diniyah hanya berlangsung 1 jam setengah dari jam 15.00 – 16.30. setelah diniyah usai kami diwajibkan untuk mengikuti jamaah shalat ashar bersama abah di mushola. Seperti kegiatan sholat berjamaah pada umumnya yang mesti di akhiri dengan wiridan.
Seusai jamaah sholat berjamaah ashar, inilah waktu yang kami tunggu – tunggu. Yaitu waktunya makan... seakan lelah dan kesal terbayar atas semua kegiatan yang telah kami lakukan dari tadi siang. Ketika terdengar suara dari pengurus “yo kang...!!! kos e di jipuk i, lek ndang... neg ra komanan yo mboh we!!!” sungguh luar biasa girangnya kami, karna hari ini jatah ku mengambil sego kos biasa kami menyebutnya, jadi aku dan salah seorang temanku berangkat menuju dapur ndalem untuk mengambil sekeranjang tepak, yang berisi kos untuk satu kamar. Ada sebuah percakapan yang biasa di ucap santri putra ketika mengambil kos. Yaitu “eh seng jogo kos sopo yo??? Mugo – mugo cah kae, soale kangen aku” haha obrolan singkat tentang penjaga kos, karna begitulah rutinitas kami. Kembali kita berdua membawa kranjang itu ke dalam kamar, dan belum sampai di dalam kamar kami sudah di rubung oleh teman – teman yang menunggu kedatangan sego kos. karna disinilah namanya kebersamaan jadi kita makan bersama – sama. Saat ada yang mempunyai lawoh walaupun sedikit kita akan tetap membagi sama rata, semisal ada krupuk kita akan membukanya dan memakan bersama – sama.
Tak terasa hari sore menjelang malam, hari dimana kekusyuan santri di uji, mulai dari menahan kantuk, keluar malam, sampai jajan neng njobo. Sore adalah waktu untuk kami ishoma (istirahat sejenak, sholat dan makan).
Ketika sudah terdengar suara adzan, kami semua bergegas mengambil wudhu, bergegas ke mushola, menunggu abah rawuh sambil membaca quran. Kegiatan kami sehabis sholat maghrib adalah membaca surat yasin, ar – rahman, dan surat al – mulk. Setelah itu dilanjutkan dengan ngaji sama pihak ndalem berdasarkan jatah kelompok berurutan. Kalo santri yang tidak mengikuti ngaji ndalem harus mengikuti ngaji membaca surat tadi.
Ketika ngaji tadi sudah selesai langsung di sambung dengan adzan sholat isya’. Seperti biasa untuk menunggu abah rawuh kami juga membiasaakn diri membaca ayat suci Al – Quran.
Ketika sholat isya’ telah selesai, kami semua santri putra maupun putri yang sudah duduk di kelas 4 awaliyyah atau santri kawak harus wajib mengikuti ngaji bandongan, sementara santri yang masih kelas 1, 2, 3 awaliyyah harus ikut ngaji sama kang – kang e atau mbak – mbak e pengurus. Pengampu ngaji bandongan adalah dari pihak ndalem, misal kitab sarah Alfiyah Ibn Malik yang di ampu langsung oleh abah, kitab yang lain pun juga sama, yakni dari para mantu abah. Biasanya ngaji selesai pada jam 10 malam kurang atau lebih sedikit.
Saat waktu ngaji telah selesai, biasanya kami berkumpul di tempat tertentu seperti di dalam kamar, depan kamar, di mushola, serambi mushola, atau di tempat tertentu yang tentu masih di dalam lingkungan pondok untuk membahas suatu hal, misal tentang belajar bersama untuk mengulang pelajaran tadi pagi atau membuka pelajran yang akan di ajarkan esok hari nanti, ada pula yang ngesahi (menembel ma’na yang kosong dalam kitab), atau mengisi dengan obrolan ringan seperti bercanda, ngobrol ngalor ngidul, dll. Biasanya kami baru tidur kalo sudah menginjak pukul 12 malam, entah karna kebiasaan atau karna belum ngantuk aku juga tak tahu, yang jelas itulah kebiasaan kami para santri.
Waktu berlayar dalam mimpi pun telah dimulai, sepinya pondok, dan sunyinya kegiatan membuat kami jadi tenang serta tubuh yang capek membuat kami tertidur pulas.
Bagi santri yang sudah terbiasa shalat tahajud (shalat malam) mereka sudah biasa terbangun di pagi buta jam 02.00 pagi, untuk bersujud mengadu, bercerita, memohon kepada sang pencipta.




















Mungkin itulah yang dapat saya ceritakan tentang “24 JAM SANTRI” apabila ada nama, tempat, serta apapun yang menyinggung pembaca, itu hanya kebetulan. Dan cerita ini saya tulis dalam bentuk Ms. Word sesuai dengan pemikiran diri saya sendiri dan tidak mengutip suatu kata pun dari pihak lain atau orang lain.
Mranggen, 18 Januari 2017
Maulana Bahrul Alam


BIODATA:
Nama:              Maulana Bahrul Alam
Sekolah:           MA Futuhiyyah 1 Mranggen
Pondok:           Ponpes Putra Putri Al – Anwar Suburan Mranggen
Email:               Elbahroel@gmail.com
                        Bahrul295@yahoo.co.id
Blog:                elbahroel.blogspot.com

Kamis, 05 Januari 2017

SEJARAH BERDIRINYA PONDOK PESANTREN PUTRA PUTRI AL-ANWAR MRANGGEN DEMAK

SEJARAH BERDIRINYA PONDOK PESANTREN AL-ANWAR MRANGGEN DEMAK
Saya di sini hanya meneruskan posting dari Ikatan Alumni Santri Pondok Pesantren Al Anwar. Yg saya inginkan semoga postingan saya ini kelak dapat bermanfaat dan dapat di kisahkan kepada santri anak cucu atau semua kalangan... dan inilah kisahnya.
Dilihat geogafrisnya, Pondok Pesantren Al-Anwar berada di Kampung Suburan Mranggen, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Pesantren ini Didirikanpada hari  Sabtu Kliwon 12 Maret 1994., usia yang relative masih muda tentunya, jika dibanding  dengan pondok-Pondok Pesantren yang banyak tersebar di Kecamatan Mranggen, khususnya pesantren-pesantren yang berada di lingkungan pesantren induk, Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen.Latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Al-Anwar ini tidak dapat lepas dari keterkaitannya dengan Pondok Pesantren An-Nur  yang diasuh oleh KH. Mustawam Abdul Fatah dari Rowosari Semarang, dimana sebelum berganti nama menjadi Pondok Pesantren al-Anwar, Pondok Pesantren An-Nur  menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Pondok Pesantren Al-Anwar (hasil wawancara dengan KH. Abdul Bashir Hamzah tanggal 24 Mei 2008).Pondok Pesantren An-Nur  merupakan sebuahPondok Pesantren putra-putri yang lokasinya tepat di jalan raya Mranggen (sebelah utara jalan) yang keberadaannya tidak jauh dari Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, tepatnya 100 meter sebelah selatannya. Dimana sebelumnya, pada tahun 1970 M., KH. Mustawam ikut pula mengelola dan mengajar di Pondok Pesantren An-Nur iyah yang berlokasi di jalan raya Mranggen (sebelah selatan jalan) yang didirikan oleh KH. Utsman bin Abdurrahman. Dari kedua pesantren inilah awal mula sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Anwar Mranggen Demak ditulis.Dikisahkan, ketika Pondok Pesantren An-Nuriyah mengalami kemajuan yang pesat, Baik dari segi kualitas maupun kuantitas, Pondok Pesantren ini ditinggal wafat oleh pengasuhnya, yaitu KH. Utsman bin Abdurrahman. Sementara jumlah santri yang kian hari kian bertambah banyak,sedangkan lokasi pondok yang tidak mencukupi untuk menampung para santri, maka KH. Mustawam (termasuk kerabat dari Nyai Saudah istri KH. Utsman bin Abdurrahman) merasa ikut terpanggil dan berkewajiban untuk mencarikan solusinya. Akhirnya dengan jerih payahnya, pada tahun 1974 M.beliau membuka lokasi baru untuk memfasilitasi minat masyarakat yang begitu besar untuk memondokan putra-putrinya pada Pondok Pesantren An-Nur . Langkah awalnya adalah dengan membangun sebuah kamar santri putra tepat di belakang rumahnya, dan sebuah kamar santri putri didalam rumah bagian depan dengan fasilitas yang masih serba minim, pada saat inilah peletakan batu pertama Pondok Pesantren An-Nur  dimulai (Hasil Wawancara dengan KH. Abdul Bashir Hamzah pengasuh PP. al-Anwar,tanggal 24 Mei 2008).Memikul dinamika alamiah yang sering pula dialami oleh pesantren, semisal keinginan untuk menambah jumlah santri tanpa harus melupakan kualitas SDM merupakan beban berat yang dipikul pesantren dalam mengembangkan lembaganya. Kuantitas boleh dikejar tapi kualitas tetap menjadi prioritas utama dalam pengelolaan pesantren, sebab kalua tidak maka sebuah pesantren akan diragukan eksistensinya, kalau tidak bisa dikatakan akan ditinggalkan oleh masyarakat karena akan dianggap tidak bermutu. Inilah pijakan dasar yang selalu dipegang teguh oleh setiap pengasuh pesantren.Pada tahun 1974 M., Pondok Pesantren An-Nur  mendapat amanat dan kepercayaan dari Allah swt., melalui antusias masyarakat untuk menitipkan putra-putrinya, yaitu dengan mendapatkan 2 orang santri putra dan 2 orang santriputri, masing-masing berasal dari Desa Sirawak dan Turko Ungaran Kabupaten Semarang, dan santri putri dari Desa Karangawen. Pada tahun berikutnya, yaitu tahun 1976 M. jumlah santri Pondok Pesantren An-Nur  bertambah menjadi 20 orang. Sejak saat itu Pondok Pesantren An-Nur  mengalami banyak kemajuan dengan kian banyaknya masyarakat yang mempercayakan putra-putrinya untuk menimba ilmu di lembaga pesantren ini. Pada tahun 1978 M. dengan alasan keterbatasan sarana dan prasana, KH. Mustawam merasa sudah tidak mungkin lagi menampung santri putra, sebab lokasinya hanya terbatas di dalam kediaman kyai saja. Oleh karena itu, beliau membangun gedung abru khusus untuk santri putra, yang berlokasi kurang lebih 50 meter sebelah timurnya, walaupun dengan kondisi bangunanfisik yang sangat sederhana sekali, dengan bahan bangunan yang digunakan untuk membangun pondok berupa kayu Soren dengan jumlah kamar sebanyak 4 buah dengan ukuran 2 kali 3 meter. Bangunan PondokPesantren An-Nur  putra yang baru ini yang kemudian menjadicikal bakaldari pendirian Pondok Pesantren Al-Anwar selanjutnya (hasil wawancara dengan KH. Abdul Bashir Hamzah tanggal 24 Mei 2008).Melewati sejarah panjang serta berlika-liku, diawali tahun 1979 M. struktur pengelolaan Pondok Pesantren An-Nur  diperbaiki dan mulai adanya pembagian wewenang dan tanggungjawab, Pondok Pesantren An-Nur  diasuh oleh KH. Mustawam dan Hj.Maryam, sedang Pondok Pesantren An-Nur  Putra yang diserahkan kepada menantunya KH. Abdul Basyir Hamzah dari Tambakroto Sayung Demak dengan didampingi putri satu-satunya KH. Mustawam, yaitu Hj. Hafudotul Ulya.Pada tahun 1985 M, jumlah santri Pondok Pesantren An-Nur  putra melonjak menjadi 76 santri,sementara An-Nur  putri menjadi 60 santriwati. Sehingga pada tahun 1987 M. sampai dengan 1988 M., Pondok Pesantren An-Nur  putra mulai berbenah diri ditandai dengan pembangunan gedung permanen yang diselesaikan pada tahun itu juga. Pemugaran gedung lama yang masih tradisional menjadi gedung baru yang permanen adalah salah satu bentuk cita-cita atau keinginan untuk maju dan berkembang. Kenyamanan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) mau tidak mau harus diutamakan, dan itu hanya bisa dilakukan apabila sarana dan prasananya ikut mendukung terwujudnya KBM yang inovatif, kreatif, dan efektif bagi peserta didik. Hal itulah yang menjadi landasan utama dalam peningkatan mutu pesantren,Kemudian pada tahun 1994 M., Pondok PesantrenAn-Nur  putra berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Anwar yang dikelola secara independenoleh KH. Abdul Basyir Hamzah dan diberi hak otonomuntuk menjalankan manajemen kepesantrenan sehari-hari, dengan harapan pesantren yang baru inilebih mampu mengoptimalkan peran dan fungsinya sebagai lembaga pendidikan. Otonomi yang diberikan oleh sang pendahulu ternyata mampu dimanfaatkan secara optimal oleh sang penerus hingga saat ini. Halini dapat dilihat dari kemajuan fisik maupun kurikulumnya. Penanganan yang ala kadarnya sudah tidak lagi menghiasi buku catatan Pondok Pesantren al-Anwar.Pesantren ini mulai berbenah dengan perbaikan manajemen dan kurikulum hingga mempersiapkan aset SDM bagi lulusan pondok atau alumnus, dengan membekali santri-santrinya tidak hanya ahli di bidang keagamaan tetapi juga mampu berperan di masyarakat dalam segala bidang, dengan harapan nantinya para alumninya dapat menjadi“brosur hidup”bagi Pondok Pesantren Al-Anwar di lingkungan mereka masing-masing, sehingga Pondok Pesantren Al-Anwar tetap eksis dan berkesinambungan hingga akhir masa dan dikenal oleh masyarakat luas (dikutip dan diolah dari buku Profil Lembaga: Sejarah dan Perkembangan PP. Al-Anwar Mranggen Demak tahun 2008).

Rabu, 14 Desember 2016

Kisah motivasi: sedekah berbuah berkah

Saya masih ingat kira2 saat pernikahan kakak saya yg pertama di jakarta. Saat keadaan pulang rombongan bis dari kampung halaman berhenti di sebuah pom bensin. Entah di daerah mana saya lupa. Yang jelas keadaan masih sore menjelang maghrib. Dan saya akan menceritakan kisah pengalaman seorang yang pernah saya temui dan dia bercerita tentang barokahe sedekah.
Saat bis telah berhenti, orang2 sibuk sendiri. Ada yg ke toilet. Ada yg menyalakan rokok. Ada yang cari makan. Saya dan paman saya berjalan ke arah sebuah warung kecil tanpa alas yg ada di depan kamar mandi. Dan di warung tersebut sudah ada lelaki yg menurut saya agak lebih tua dari paman saya. Dan ketika saya sudah memesan minuman mulailah perbincangan di antara kita. Nama saya saya singkat A paman B dan org tersebut C
A: dari mana pak? Tanya saya sekemudian saya berhadapan
C: dari jakarta, mau ke jogja. Kalo smpean
A: karna tau neg dia bisa logat jawa saya jawab sak nyeplos e... dari jakarta pak. Bekasi dari nikahane kakak saya. Mau ke semarang pulang lagi.
Datanglah kopi yg telah saya pesan. Lalu saya minum sedikit kopi dan mulai melihat waktu... jam 16.56 masih lama maghrib
B: mau ke jogja enten np pak
C: istri lahiran. Harus oprasi gak ada uang. Pak. Bingung pak saya. Harus cari pinjeman kemana.
B: neg gusti allah paring kerso. Kabeh kui wes ono dalane pak. Dadi ra usah di pikir.
A: pak bade nyuwun nmr hpne mangkeh menowo kulo mampir ng jogja kulo saget hubungi smpean..
Saat bis sudah mulai akan jalan. Dan saya mengeluarkan uang untuk membayar kopi. Tiba2 tangan saya si pegang bpak tdi. Ga usah dek biar saya yg bayar. Itung2 udah berbagi pengalaman. Dan saat itupun saya bersalaman dengannya.
Selang beberapa hari bapak itu menghubungi saya. Dan bercerita kalo selepas ia membayar i saya kopi (bisa d bilang bersesekah) dia kedapatan rejeki yg besar. Entah berupa apa tpi beliau berverita begitu. Jadi hikmah yg dapat kita ambil dalam cerira ini. Sedekah dapat memberi kita jalan dalam segala masalah...
Next untuk pemesanan cerita lainnya. Kirim kritikan dan saran lewat nmr 085640758100 arau ig: @bahroel_alam27

Selasa, 13 Desember 2016

Diary eps.1

Hati - hati dengan indramu
Karena dari indralah akan menjadi pikiranmu
Hati - hati dengan pikiranmu
Karena akan menjadi ucapanmu
Hati - hati dengan ucapanmu
Karena ia akan menjadi perbuatanmu
Hati - hati dengan perbuatanmu
Karna ia akan menjadi kebiasaanmu
Hati - hati dengan kebiasaanmu
Karna itu akan menjadi karaktermu (akhlak)
Di kutip dari buku: catatan perindu kebangkitan islam
Penulis: afiyah muyassaroh
Diambil dari buku diary: maulana bahrul alam

Improve Your Critical Thinking

       A questioning way that makes us carefully examine a situation, exposes hidden problems, such as bias and manipulation and makes th...